NGOPI TMA: Membangun Pola Pikir Product Thinking untuk Para Engineer

Pada tanggal 5 Juni 2026, TMA kembali menyelenggarakan acara rutin internal bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar IT), sebuah forum berbagi pengetahuan yang telah menjadi bagian dari kultur belajar dan kolaborasi di lingkungan perusahaan. Acara kali ini diselenggarakan dalam format hybrid, yaitu secara online menggunakan platform Discord dan secara offline di kantor TMA Bandung. Dengan format tersebut, seluruh anggota tim dapat berpartisipasi secara aktif, baik yang bekerja secara remote maupun yang hadir langsung di kantor.
Berbeda dengan tema-tema sebelumnya yang banyak berfokus pada teknologi dan implementasi teknis, NGOPI kali ini mengangkat topik yang sangat relevan bagi perkembangan produk dan bisnis, yaitu “Product Thinking for Engineers.” Materi dibawakan oleh dua narasumber internal TMA, yaitu Randy Rahman dan Salman Artadi, yang mengajak peserta melihat dunia pengembangan produk dari perspektif yang lebih luas daripada sekadar menulis kode atau membangun fitur.
Sesi pertama dibawakan oleh Randy Rahman dengan materi Startup Idea Forensics, sebuah pembahasan yang mengajak peserta memahami bagaimana ide produk yang baik sebenarnya lahir. Sejak awal presentasi, Randy menekankan bahwa ide hebat tidak selalu berasal dari teknologi yang revolusioner, melainkan dari kemampuan memahami masalah nyata yang dihadapi pengguna. Ia mengingatkan bahwa banyak startup sukses tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari observasi terhadap kesulitan sehari-hari yang dialami masyarakat.
Dalam pemaparannya, Randy menjelaskan berbagai contoh bagaimana perusahaan-perusahaan besar berhasil karena mampu menyelesaikan masalah yang nyata. Tokopedia membantu masyarakat menemukan penjual terpercaya, Traveloka mempermudah pencarian dan pemesanan perjalanan, sementara Halodoc menyederhanakan proses konsultasi kesehatan. Pola yang sama terlihat di berbagai startup sukses lainnya: mereka tidak memulai dari teknologi, tetapi dari masalah yang perlu diselesaikan.
Diskusi kemudian berkembang ke konsep penting bahwa produk dan bisnis bukanlah hal yang sama. Sebuah produk dapat menyelesaikan masalah, tetapi bisnis yang sukses adalah bisnis yang mampu menyelesaikan masalah bagi banyak orang yang bersedia membayar untuk solusi tersebut. Randy mengajak peserta untuk melihat ide produk dari sudut pandang kebutuhan pasar, bukan sekadar kemampuan teknis yang dimiliki tim.
Menariknya, Randy juga membahas bahwa sumber ide terbaik sering kali bukan berasal dari ruang rapat. Justru ide produk yang bernilai biasanya muncul dari keluhan pelanggan, rekan kerja, keluarga, komunitas, hingga jejak digital seperti review marketplace, komentar media sosial, dan grup diskusi. Pesan ini memicu banyak diskusi di antara peserta mengenai bagaimana tim engineering dapat lebih dekat dengan kebutuhan pengguna.
Memasuki sesi kedua, Salman Artadi melanjutkan pembahasan dengan topik Feature Validation Strategy. Jika sesi Randy berfokus pada menemukan masalah yang layak diselesaikan, maka Salman mengajak peserta memahami bagaimana menentukan fitur yang benar-benar penting untuk dikembangkan. Menurutnya, kesalahan yang sering terjadi dalam pengembangan produk adalah terlalu fokus pada ide fitur tanpa terlebih dahulu memvalidasi apakah fitur tersebut benar-benar dibutuhkan pengguna.
Salman menjelaskan pentingnya memulai dari pain points dan memahami Jobs-To-Be-Done (JTBD). Pengguna sebenarnya tidak membeli fitur atau produk, melainkan “menyewa” solusi untuk menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang mereka hadapi. Dengan memahami kebutuhan dasar pengguna, tim produk dapat membangun solusi yang lebih relevan dan bernilai.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah pembahasan mengenai berbagai framework untuk memprioritaskan fitur. Salman memperkenalkan metode RICE (Reach, Impact, Confidence, Effort) sebagai pendekatan berbasis data untuk menentukan prioritas pengembangan. Framework ini membantu tim mengurangi perdebatan subjektif dan fokus pada dampak bisnis yang nyata.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan metode MoSCoW (Must-have, Should-have, Could-have, Won’t-have) yang membantu tim membedakan fitur yang benar-benar wajib ada dalam MVP dengan fitur yang bisa ditunda untuk iterasi berikutnya. Pembahasan ini memicu diskusi yang cukup panjang karena banyak peserta mengaitkannya dengan pengalaman proyek-proyek yang pernah mereka kerjakan.
Sesi terakhir kembali dibawakan Salman melalui materi Winning the Competition, yang membahas bagaimana sebuah produk harus memahami posisi dirinya di tengah persaingan pasar. Salman menjelaskan bahwa memahami kompetitor bukan berarti meniru, tetapi memahami lanskap pasar agar produk dapat menemukan diferensiasi yang kuat.
Peserta diajak mengenali berbagai jenis kompetitor, mulai dari direct competitors, indirect competitors, hingga substitute solutions yang sering kali justru menjadi ancaman terbesar. Salah satu contoh menarik yang dibahas adalah bagaimana solusi dari industri berbeda dapat menjadi pesaing karena menyelesaikan masalah yang sama.
Pembahasan kemudian berlanjut ke penggunaan Competitive Landscape Analysis, Market Mapping, dan Perceptual Mapping untuk mengidentifikasi celah pasar yang belum terisi. Salman menekankan bahwa banyak peluang bisnis lahir bukan karena menciptakan kategori baru, melainkan karena menemukan ruang kosong yang belum dilayani dengan baik oleh kompetitor yang ada.
Sebagai penutup, peserta diajak menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memahami posisi produk secara lebih objektif. Diskusi menjadi semakin hidup karena banyak peserta mulai menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan produk-produk yang sedang dikembangkan TMA saat ini.
Seperti biasa, suasana NGOPI berlangsung sangat interaktif. Berbagai celetukan berkualitas muncul di tengah diskusi, mulai dari pengalaman membangun fitur yang ternyata tidak digunakan pengguna, hingga cerita tentang bagaimana engineer sering kali jatuh cinta pada solusi sebelum benar-benar memahami masalahnya. Candaan-candaan tersebut justru membuat materi yang cukup strategis menjadi lebih mudah dicerna dan menyenangkan untuk diikuti.
Penggunaan Discord sebagai platform utama kembali menunjukkan efektivitasnya dalam mendukung komunikasi dan kolaborasi. Peserta online dapat berinteraksi langsung dengan peserta offline, berbagi pengalaman, serta mengajukan pertanyaan secara real-time. Tidak ada batasan antara senior maupun junior engineer; semua peserta memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi perspektif.
Melalui NGOPI kali ini, TMA kembali menunjukkan bahwa engineer modern tidak cukup hanya memahami teknologi. Mereka juga perlu memahami pengguna, bisnis, pasar, dan strategi produk. Dengan menggabungkan kemampuan teknis dan product thinking, engineer dapat berkontribusi lebih besar dalam menciptakan solusi yang tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga memberikan nilai nyata bagi pengguna dan bisnis.
NGOPI bukan sekadar forum berbagi teknologi. Ia telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang mempertemukan engineering, product, dan business thinking dalam satu percakapan yang terbuka, santai, dan penuh makna. Di tengah perkembangan industri yang semakin kompetitif, pola pikir seperti inilah yang akan menjadi salah satu kunci keberhasilan TMA dalam membangun produk-produk yang relevan, inovatif, dan berkelanjutan.