NGOPI TMA: Menjelajahi Era Agentic AI bersama n8n, Dari Chatbot Menjadi Agen Cerdas yang Mandiri

Pada tanggal 12 Juni 2026, TMA kembali menyelenggarakan acara rutin internal bertajuk NGOPI (Ngobrol Pintar IT), sebuah forum berbagi pengetahuan yang telah menjadi bagian penting dari kultur belajar dan kolaborasi di lingkungan perusahaan. Acara kali ini diselenggarakan dalam format hybrid, yaitu secara online melalui platform Discord dan secara offline di kantor TMA Bandung. Seperti biasanya, kombinasi kedua format tersebut memungkinkan seluruh anggota tim untuk berpartisipasi aktif tanpa terhalang oleh lokasi kerja, sekaligus memperkuat budaya kerja fleksibel yang terus dikembangkan di TMA.
Pada sesi kali ini, Bayu Eka Putranto, yang akrab disapa Mas Bay, hadir sebagai pembawa tema dengan topik yang sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini, yaitu “Membuat Agentic AI menggunakan n8n.” Materi tersebut mengajak peserta memahami bagaimana evolusi AI telah berkembang dari sekadar mesin pencari informasi menjadi agen cerdas yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.
Sejak awal sesi, suasana NGOPI sudah terasa hidup. Mas Bay membawakan materi dengan gaya yang santai, komunikatif, dan penuh contoh praktis. Di sela-sela pembahasan teknis, berbagai celetukan khas para engineer dan praktisi IT membuat suasana semakin cair. Namun di balik suasana yang santai tersebut, diskusi tetap berjalan mendalam dan penuh insight. Inilah yang membuat NGOPI selalu menjadi forum yang dinanti oleh tim TMA: serius dalam substansi, tetapi santai dalam penyampaian.
Mas Bay membuka sesi dengan menjelaskan konsep dasar kecerdasan buatan. Ia menjelaskan bahwa AI pada dasarnya adalah upaya melatih mesin agar mampu meniru kemampuan berpikir manusia, mulai dari memahami bahasa hingga memecahkan masalah. Jika dahulu AI hanya menjalankan instruksi yang ditulis secara eksplisit dalam kode program, kini AI mampu memahami konteks dan bahkan memprediksi kebutuhan pengguna sebelum semuanya dijelaskan secara rinci.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika Mas Bay mengajak peserta melihat perjalanan evolusi AI dari masa ke masa. Ia menjelaskan bagaimana era pertama AI modern ditandai oleh kemunculan mesin pencari (Search Engine), yang fokus pada pengindeksan informasi dan pencocokan kata kunci. Pada tahap ini, sistem masih bersifat reaktif dan belum benar-benar memahami makna dari informasi yang dicari pengguna.
Perjalanan kemudian berlanjut ke era Large Language Models (LLM), di mana AI mulai mampu memahami konteks bahasa manusia secara lebih utuh berkat kemunculan arsitektur Transformer. Pada tahap ini, AI tidak lagi hanya mencari informasi, tetapi mampu merangkum, memahami, dan menghasilkan respons berdasarkan konteks yang diberikan.
Mas Bay kemudian menjelaskan ledakan teknologi Generative AI, yang saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan digital modern. Dengan kemunculan platform seperti ChatGPT, Midjourney, dan DALL-E, AI tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mampu menciptakan konten baru berupa teks, gambar, kode program, hingga video berdasarkan instruksi sederhana dari pengguna.
Namun inti utama sesi ini adalah pembahasan mengenai Agentic AI, yang disebut sebagai era terbaru dalam perkembangan kecerdasan buatan. Berbeda dengan chatbot konvensional yang hanya menjawab pertanyaan, Agentic AI mampu menjalankan tugas yang lebih kompleks secara mandiri. Jika pengguna meminta AI melakukan riset pasar atau membuat laporan, Agentic AI dapat memecah pekerjaan tersebut menjadi langkah-langkah kecil, mencari informasi yang dibutuhkan, menggunakan berbagai tools, dan menyelesaikan tugas hingga selesai tanpa harus diarahkan satu per satu.
Menurut Mas Bay, inilah perubahan besar yang sedang terjadi dalam industri AI saat ini. Fokus tidak lagi sekadar membuat model yang pintar menjawab pertanyaan, tetapi membangun agen yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam konteks implementasi, Mas Bay memperkenalkan n8n sebagai platform workflow automation yang sangat powerful untuk membangun Agentic AI. Ia menjelaskan bahwa n8n memungkinkan berbagai layanan, model AI, database, dan aplikasi bisnis dihubungkan menjadi sebuah workflow cerdas yang dapat berjalan secara otomatis.
Peserta kemudian diajak memahami tiga komponen utama dalam Agentic AI berbasis n8n. Komponen pertama adalah The Brain, yaitu model AI atau LLM yang berperan sebagai otak sistem. Dalam implementasi nyata, pengguna dapat memilih berbagai model seperti OpenAI, Anthropic, Ollama, maupun AiTMA sebagai pusat pengambilan keputusan. Komponen kedua adalah The Memory, yang memungkinkan agen AI mengingat konteks dan percakapan sebelumnya sehingga interaksi menjadi lebih natural. Sedangkan komponen ketiga adalah The Tools, yaitu berbagai alat yang dapat digunakan AI untuk menyelesaikan tugas, seperti RAG, Google Sheets, Gmail, Web Scraper, maupun API kustom.
Sesi semakin menarik ketika Mas Bay memperlihatkan contoh implementasi nyata melalui workflow Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang dibangun menggunakan n8n. Pada demonstrasi tersebut, peserta dapat melihat bagaimana dokumen diproses, diubah menjadi embedding, disimpan ke vector database, dan kemudian digunakan sebagai sumber pengetahuan untuk AI dalam menjawab pertanyaan secara lebih akurat. Diagram workflow yang ditampilkan menunjukkan bagaimana setiap node di n8n saling terhubung untuk membangun sistem AI yang terintegrasi.
Tidak berhenti di sana, Mas Bay juga memperlihatkan implementasi AI SQL Specialist & Analyst, sebuah agen AI yang mampu menerjemahkan pertanyaan pengguna menjadi query SQL, menjalankan query ke database, lalu menyajikan hasil analisis secara otomatis. Demo ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta karena menunjukkan bagaimana AI dapat membantu proses analisis data tanpa memerlukan keahlian SQL yang mendalam.
Sebagai penutup, peserta diperlihatkan bagaimana solusi Agentic AI tersebut dapat diintegrasikan dengan frontend berbasis Next.js, sehingga menghasilkan aplikasi yang tidak hanya cerdas dari sisi backend, tetapi juga mudah digunakan oleh pengguna akhir melalui antarmuka web yang modern.
Seperti pada sesi-sesi NGOPI sebelumnya, diskusi berlangsung sangat interaktif. Banyak pertanyaan muncul mengenai penggunaan vector database, biaya implementasi LLM, keamanan data, hingga peluang penerapan Agentic AI dalam produk-produk TMA seperti AiTMA, TeMA Data Platform, dan TeMA News Analytics. Beberapa peserta bahkan mulai membayangkan bagaimana agen AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan internal yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Penggunaan Discord sebagai media utama diskusi kembali menunjukkan efektivitasnya. Peserta online dan offline dapat berinteraksi secara real-time, berbagi layar, berdiskusi teknis, hingga melakukan brainstorming bersama tanpa hambatan berarti. Kultur komunikasi terbuka yang selama ini dibangun di TMA terlihat semakin matang melalui forum seperti NGOPI.
Melalui sesi ini, TMA kembali menunjukkan komitmennya untuk terus mengikuti perkembangan teknologi terbaru sekaligus membangun kemampuan internal yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Agentic AI bukan lagi sekadar konsep futuristik, melainkan teknologi yang mulai dapat diimplementasikan hari ini untuk membantu organisasi bekerja lebih cerdas, cepat, dan efisien.
NGOPI kali ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis mengenai Agentic AI dan n8n, tetapi juga membuka wawasan baru tentang arah perkembangan AI di masa depan. Sebuah masa depan di mana AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga menjadi mitra kerja digital yang mampu berpikir, bertindak, dan berkolaborasi bersama manusia dalam menyelesaikan berbagai tantangan bisnis dan teknologi.