Ngopi IT: Membangun Fondasi AI untuk Menyongsong Masa Depan Digital

Bandung, 26 Juni 2026 – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara dunia bekerja, berinovasi, dan mengambil keputusan. Namun di tengah derasnya perkembangan teknologi tersebut, masih banyak praktisi teknologi yang bertanya, "Sebenarnya AI itu apa?", "Bagaimana AI bekerja?", hingga "Haruskah saya belajar AI sekarang?". Menjawab kebutuhan tersebut, PT Tech Mayantara Asia (TMA) kembali menyelenggarakan program rutin Ngopi IT (Ngobrol Soal IT) dengan mengangkat tema "AI Fundamental", sebuah sesi berbagi pengetahuan yang membahas konsep dasar Artificial Intelligence sebagai pondasi sebelum memasuki dunia AI yang semakin kompleks. Materi sesi ini disampaikan oleh Randy Rahman, Software Engineer PT Tech Mayantara Asia.
Bertempat di Kantor Magna, Bandung, serta diikuti secara daring melalui Discord, kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 16.00 WIB ini dihadiri oleh para software engineer, developer, UI/UX designer, product enthusiast, hingga mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap teknologi Artificial Intelligence. Sesuai dengan semangat Ngopi IT, acara dikemas dalam suasana santai namun tetap kaya akan wawasan teknis sehingga peserta dapat berdiskusi secara terbuka tanpa sekat formalitas.
Dalam pembukaan sesi, Randy Rahman menyampaikan bahwa saat ini AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan telah menjadi kemampuan dasar (fundamental skill) yang perlu dipahami oleh setiap insan digital. Menurutnya, banyak orang langsung mencoba menggunakan berbagai layanan AI generatif seperti ChatGPT atau Gemini tanpa memahami konsep dasar yang berada di balik teknologi tersebut. Padahal, pemahaman terhadap fondasi AI akan membantu seseorang memanfaatkan teknologi secara lebih efektif, aman, dan bertanggung jawab. Hal tersebut juga menjadi tujuan utama materi AI Fundamentals, yaitu membangun paradigma berpikir yang benar mengenai Artificial Intelligence sebelum membahas implementasi yang lebih kompleks.
Materi diawali dengan pembahasan mengenai definisi Artificial Intelligence dan alasan mengapa AI menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh dalam sejarah komputasi. Randy menjelaskan bahwa AI merupakan cabang ilmu komputer yang berupaya membuat mesin mampu melakukan tugas-tugas yang sebelumnya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, mengambil keputusan, hingga memecahkan masalah. Berbeda dengan anggapan umum bahwa AI identik dengan robot humanoid, sebagian besar AI yang digunakan saat ini justru hadir dalam bentuk perangkat lunak yang bekerja di balik berbagai aplikasi digital yang kita gunakan setiap hari.
Peserta kemudian diajak melihat perjalanan evolusi AI selama lebih dari tujuh dekade. Mulai dari era Rule-Based System pada tahun 1950-an yang mengandalkan aturan-aturan yang ditulis secara manual, berlanjut ke era Machine Learning pada tahun 1990-an ketika komputer mulai belajar dari data, kemudian memasuki era Deep Learning pada sekitar tahun 2012 yang memungkinkan AI mengenali pola yang jauh lebih kompleks melalui jaringan saraf tiruan (neural network). Evolusi tersebut berlanjut ke era Generative AI yang mulai populer sejak hadirnya model transformer dan Large Language Model (LLM), hingga perkembangan terbaru berupa AI Agent yang mampu melakukan serangkaian pekerjaan secara mandiri. Timeline perkembangan ini memberikan gambaran bahwa AI merupakan hasil evolusi panjang, bukan teknologi yang muncul secara instan dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah penjelasan mengenai hubungan antara Artificial Intelligence, Machine Learning, dan Deep Learning. Randy menggunakan ilustrasi sederhana bahwa AI merupakan payung besar, Machine Learning adalah bagian dari AI, sedangkan Deep Learning merupakan bagian dari Machine Learning. Penjelasan ini membantu peserta memahami mengapa tidak semua AI menggunakan Machine Learning, dan tidak semua Machine Learning menggunakan Deep Learning. Dengan pendekatan visual yang sederhana, konsep yang selama ini sering dianggap rumit menjadi jauh lebih mudah dipahami.
Pada sesi berikutnya, Randy membahas lebih dalam mengenai Machine Learning, yaitu kemampuan komputer untuk belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit untuk setiap kondisi. Melalui ilustrasi proses training data dan testing data, peserta diperlihatkan bagaimana sebuah model belajar mengenali pola dari data historis sebelum akhirnya mampu memberikan prediksi terhadap data baru. Ia juga menjelaskan tiga pendekatan utama dalam Machine Learning, yaitu Supervised Learning, Unsupervised Learning, dan Reinforcement Learning, beserta contoh penerapannya di dunia industri seperti prediksi penjualan, segmentasi pelanggan, sistem rekomendasi, hingga kendaraan otonom.
Diskusi kemudian berlanjut mengenai pentingnya data sebagai "bahan bakar" AI. Randy menekankan bahwa kualitas model AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan. Ia menjelaskan perbedaan antara structured data seperti data dalam database relasional dengan unstructured data seperti dokumen, gambar, video, email, maupun percakapan WhatsApp. Menurutnya, ledakan perkembangan AI generatif beberapa tahun terakhir terjadi karena kemampuan Deep Learning dalam memahami data tidak terstruktur yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan data terstruktur. Penjelasan ini membuka wawasan peserta bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada algoritma, tetapi juga pada pengelolaan data yang baik.
Memasuki pembahasan Deep Learning, Randy memperkenalkan konsep Neural Network, yaitu model komputasi yang terinspirasi dari cara kerja otak manusia. Dengan memanfaatkan banyak lapisan (hidden layer), Deep Learning mampu mengenali pola yang sebelumnya sulit dipelajari menggunakan metode Machine Learning konvensional. Teknologi inilah yang menjadi fondasi berbagai kemampuan AI modern seperti pengenalan wajah, pengolahan bahasa alami (Natural Language Processing), pengenalan objek pada gambar, hingga sistem rekomendasi yang saat ini banyak digunakan oleh berbagai platform digital.
Topik yang paling dinantikan peserta adalah pembahasan mengenai Generative AI dan Large Language Model (LLM). Randy menjelaskan bagaimana model seperti ChatGPT, Gemini, Claude, maupun Llama bekerja berdasarkan arsitektur transformer yang memungkinkan AI memahami konteks percakapan dan menghasilkan jawaban yang menyerupai cara manusia berkomunikasi. Namun ia juga mengingatkan bahwa model-model tersebut tidak selalu benar. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan seperti Retrieval Augmented Generation (RAG) untuk menghubungkan model AI dengan sumber data organisasi sehingga jawaban yang dihasilkan lebih relevan, akurat, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Tidak berhenti pada AI Generatif, sesi juga membahas perkembangan terbaru yaitu AI Agent. Randy menjelaskan perbedaan mendasar antara chatbot tradisional dengan AI Agent. Jika chatbot umumnya hanya memberikan jawaban terhadap pertanyaan pengguna, AI Agent mampu melakukan serangkaian tindakan secara otomatis, seperti mengambil data dari berbagai sistem, melakukan analisis, menjalankan workflow, hingga menghasilkan keputusan tertentu berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. Konsep ini dinilai akan menjadi arah perkembangan AI dalam beberapa tahun mendatang karena mampu meningkatkan produktivitas dan otomatisasi proses bisnis secara signifikan.
Sebagai penutup, Randy memperlihatkan gambaran Modern AI Tech Stack, mulai dari lapisan aplikasi, Large Language Model, Vector Database, Embedding Model, hingga berbagai komponen pendukung lain yang membentuk sebuah solusi AI modern. Ia juga memperkenalkan contoh implementasi nyata melalui MyTMA Assistant, sebuah platform AI internal yang menunjukkan bagaimana berbagai komponen tersebut dapat diintegrasikan menjadi solusi yang memberikan nilai tambah bagi organisasi. Melalui contoh implementasi tersebut, peserta memperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana konsep-konsep AI yang telah dipelajari diterapkan dalam lingkungan kerja profesional.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi berlangsung. Diskusi yang muncul tidak hanya berkisar pada konsep teknis, tetapi juga membahas tantangan implementasi AI di perusahaan, etika penggunaan AI, keamanan data, hingga peluang karier di bidang Artificial Intelligence. Berbagai pertanyaan mengenai pemilihan model AI, strategi belajar, serta penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak menunjukkan besarnya minat peserta terhadap teknologi yang kini menjadi salah satu pendorong utama transformasi digital.
Melalui penyelenggaraan Ngopi IT bertema AI Fundamental, PT Tech Mayantara Asia kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya belajar yang berkelanjutan di lingkungan perusahaan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan untuk terus belajar menjadi salah satu kunci utama agar setiap insan teknologi mampu beradaptasi terhadap perubahan. Dengan memahami fondasi AI secara benar, para engineer tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi terbaru, tetapi juga dapat merancang solusi yang lebih inovatif, bertanggung jawab, dan memberikan dampak nyata bagi bisnis maupun masyarakat.
Ngopi IT bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi telah menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu untuk saling belajar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama. Melalui inisiatif seperti ini, TMA berharap dapat terus menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendorong lahirnya talenta digital yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan era Artificial Intelligence.