Kembali ke halaman insight

TMA Merapikan Ruang Kerja: Merawat Ruang, Menumbuhkan Pengalaman, Membangun Kolaborasi

Admin
Diterbitkan 17 Oktober 2026
0 dilihat
0 dibagikan
Bagikan:
TMA Merapikan Ruang Kerja: Merawat Ruang, Menumbuhkan Pengalaman, Membangun Kolaborasi

Summarecon, Oktober 2026 — PT Tech Mayantara Asia (TMA) tengah melakukan penataan ruang kerja di kantor Summarecon sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang lebih nyaman, fungsional, dan mendukung produktivitas. Inisiatif ini tidak semata-mata berkaitan dengan pembenahan fisik ruangan, tetapi juga merupakan bagian dari perhatian TMA terhadap manusia, interaksi, dan pengalaman sehari-hari yang terbentuk di dalam lingkungan kerja.

Kantor TMA di Summarecon memiliki tiga lantai dengan beragam fungsi dan kebutuhan aktivitas. Penataan dilakukan secara bertahap, dimulai dari lantai pertama, termasuk area pantry dan ruang mezzanine yang berada di atasnya. Pada tahap awal ini, pembenahan area pantry dan mezzanine telah diselesaikan. Area tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari lingkungan kerja yang lebih tertata, sekaligus menyediakan ruang bagi insan TMA untuk beristirahat sejenak, bertukar pikiran, dan membangun interaksi di luar aktivitas pekerjaan yang formal.

Ke depan, penataan ruang kerja juga diarahkan untuk mengakomodasi dua kebutuhan yang sama-sama penting: ruang untuk bekerja dengan fokus dan ruang untuk bekerja bersama. Keduanya merupakan bagian dari dinamika kerja modern. Ada saatnya seseorang membutuhkan ketenangan untuk berpikir, membaca, menulis, atau menyelesaikan persoalan teknis yang kompleks. Namun, ada pula saatnya gagasan berkembang melalui percakapan, diskusi spontan, dan pertukaran perspektif dengan rekan kerja.

Bagi perusahaan teknologi seperti TMA, kedua kebutuhan tersebut memiliki arti khusus. Pekerjaan pengembangan perangkat lunak, pengelolaan data, rekayasa sistem, dan pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan membutuhkan konsentrasi sekaligus kolaborasi. Ruang kerja yang baik perlu memberi tempat bagi keduanya, tanpa menganggap bahwa produktivitas hanya dapat diukur melalui kesibukan atau aktivitas yang terlihat.

Ruang Kerja sebagai Dunia Pengalaman Sehari-hari

Pentingnya ruang kerja dapat dipahami melalui satu kenyataan sederhana: sebagian besar orang menghabiskan sekitar sepertiga waktunya dalam sehari untuk bekerja dan menjalani berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam rentang waktu tersebut, ruang kerja bukan hanya menjadi tempat seseorang menyelesaikan tugas, melainkan juga lingkungan tempat kebiasaan terbentuk, hubungan berkembang, dan pengalaman sehari-hari berlangsung.

Dunia pengalaman sehari-hari ini dikenal dengan istilah Lebenswelt, atau dunia-kehidupan. Konsep ini banyak dibahas dalam tradisi fenomenologi. Lebenswelt merujuk pada dunia yang kita alami dan pahami melalui keseharian, interaksi, kebiasaan, serta makna yang terbentuk dalam kehidupan bersama.

Dari perspektif ini, ruang kerja tidak cukup dipahami melalui ukuran luas, susunan meja, pencahayaan, atau kelengkapan fasilitas. Ruang juga perlu dipahami sebagai sesuatu yang dihayati. Bagaimana seseorang merasakan ketenangan ketika bekerja, apakah ia merasa nyaman untuk menyampaikan gagasan, bagaimana percakapan terjadi, dan apakah lingkungan tersebut mendukung tumbuhnya kepercayaan merupakan bagian dari pengalaman ruang itu sendiri.

Dengan kata lain, ruang bukan sekadar wadah bagi aktivitas manusia. Ruang turut membentuk cara manusia menjalani aktivitasnya.

Dari Ruang Fisik Menjadi Ruang yang Bermakna

Ada pemiikiran yang memberikan sudut pandang lain untuk memahami hubungan manusia dengan ruang: membangun ruang tidak berhenti pada pendirian struktur fisik. Membangun ruang juga berkaitan dengan bagaimana manusia menghuni, merawat dan menjalin hubungan dengan tempat yang ditinggalinya.

Gagasan tersebut relevan bagi TMA dalam memandang penataan kantor. Membenahi ruang kerja bukan semata-mata menempatkan furnitur pada posisi yang tepat atau membuat ruangan terlihat lebih rapi. Lebih jauh, upaya ini adalah bagian dari proses membentuk tempat yang dapat dihuni secara bermakna oleh orang-orang yang menggunakannya setiap hari.

Ruang yang baik memberi kesempatan bagi manusia untuk bekerja dengan tenang, berinteraksi secara wajar, dan merasakan bahwa lingkungan di sekitarnya mendukung pekerjaannya. Dalam pengertian ini, merawat ruang juga merupakan salah satu cara merawat pengalaman manusia di dalam organisasi.

Sementara itu, interaksi antar-insan TMA begitu penting dalam membangun pemahaman bersama. Lingkungan kerja bukan hanya tempat individu menjalankan fungsi masing-masing, tetapi juga tempat pengetahuan dibagikan, persoalan dibicarakan, dan kesepahaman dibangun. Karena itu, keberadaan ruang bersama memiliki nilai yang tidak kalah penting dari ruang yang dirancang untuk konsentrasi individual.

Area pantry dan mezzanine yang baru selesai ditata dapat dilihat dalam kerangka tersebut. Keduanya bukan hanya fasilitas pendukung, tetapi juga bagian dari lingkungan yang berpotensi mempertemukan orang-orang dalam suasana yang lebih informal. Percakapan sederhana saat beristirahat terkadang menjadi awal dari pertukaran gagasan, munculnya perspektif baru, atau terbentuknya hubungan kerja yang lebih baik.

Menata Ruang, Merawat Manusia

Bagi TMA, teknologi pada akhirnya selalu berkaitan dengan manusia yang mengembangkan, menggunakan, dan menerima manfaatnya. Prinsip yang sama juga berlaku pada lingkungan kerja: kualitas ruang perlu dilihat dari bagaimana ruang tersebut mendukung manusia dalam menjalani pekerjaannya.

Penataan kantor TMA di Summarecon akan dilanjutkan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan ruang fokus, ruang kolaborasi, dan area bersama. Proses ini merupakan perjalanan untuk membangun lingkungan kerja yang tidak hanya tertata secara fisik, tetapi juga mendukung kualitas pengalaman sehari-hari insan TMA.

Sebab, ruang tempat kita bekerja setiap hari secara perlahan turut membentuk cara kita berpikir, berinteraksi, dan berkarya. Merapikan ruang, dengan demikian, bukan hanya tentang mengatur benda-benda di dalamnya. Ini juga tentang menciptakan kondisi yang memungkinkan manusia bertumbuh, pengetahuan berkembang, dan kolaborasi menghasilkan manfaat.

Technology Begins with People. Bagi TMA, perhatian terhadap manusia dimulai bukan hanya dari teknologi yang dibangun, tetapi juga dari ruang tempat gagasan lahir, pekerjaan dijalankan, dan kebersamaan tumbuh.