Kolaborasi Pemkab Mojokerto & TMA: TeMA Civic Menjadi Fondasi Awal Pengembangan IDSS

Mojokerto, 15 September 2026 — Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan Tech Mayantara Asia (TMA) kembali membuka ruang kolaborasi strategis dalam mendorong transformasi digital pemerintahan daerah. Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, jajaran Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama tim TMA membahas rancangan arsitektur Intelligent Decision Support System (IDSS) yang diarahkan untuk membantu pemerintah daerah mengelola data, memantau kinerja pembangunan, melakukan analisis, hingga mendukung pengambilan keputusan secara lebih terukur.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Mojokerto, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, serta perwakilan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dari pihak TMA hadir Randy R. Wrihatnolo, Anwar, serta tim teknis yang memaparkan konsep, mekanisme, manfaat, dan tahapan awal pengembangan IDSS untuk mendukung tata kelola pemerintahan Kabupaten Mojokerto.
Salah satu hal penting yang dibahas dalam pertemuan ini adalah bagaimana TeMA Civic, salah satu platform TMA untuk kebutuhan pemerintahan dan layanan publik, dapat menjadi fondasi awal dalam membangun ekosistem IDSS Mojokerto. Dengan pendekatan tersebut, IDSS tidak harus dibangun dari titik nol, melainkan dapat dikembangkan di atas fondasi platform yang telah disiapkan, kemudian diperluas dengan kemampuan integrasi data, analitik, indikator kinerja, dan kecerdasan pendukung keputusan.
Konsep ini menempatkan TeMA Civic sebagai lapisan awal atau digital foundation bagi pengembangan IDSS. TeMA Civic berperan sebagai platform yang menjadi tempat berbagai kebutuhan digital pemerintahan dapat dibangun dan diintegrasikan, sementara IDSS dikembangkan lebih lanjut untuk menghadirkan kemampuan intelligence di atas data dan proses pemerintahan tersebut.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tantangan pemerintah daerah saat ini bukan sekadar bagaimana menyediakan aplikasi digital. Banyak OPD telah memiliki aplikasi dan sistem masing-masing, tetapi data yang dihasilkan sering kali masih tersebar, memiliki format yang berbeda, dan belum mudah digunakan untuk melakukan analisis lintas sektor. Akibatnya, informasi yang sebenarnya sangat berharga belum sepenuhnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui konsep TeMA Civic → Data Integration → Analytics → IDSS, TMA menawarkan pendekatan bertahap untuk membangun ekosistem tersebut. TeMA Civic menjadi fondasi aplikasi dan layanan pemerintahan, sementara lapisan integrasi memungkinkan data dari berbagai sumber dan OPD dikonsolidasikan. Data yang telah terintegrasi kemudian dapat dianalisis untuk menghasilkan insight, sebelum akhirnya disajikan melalui mekanisme IDSS sebagai informasi yang membantu pimpinan dalam menentukan arah kebijakan.
Dalam pemaparannya, Randy R. Wrihatnolo menjelaskan bahwa IDSS Mojokerto dirancang dengan prinsip modular dan scalable. Artinya, sistem dapat dimulai dari kebutuhan prioritas dan berkembang secara bertahap mengikuti kesiapan data, aplikasi, maupun kebutuhan pemerintah daerah. Pendekatan ini juga memungkinkan investasi teknologi dilakukan secara lebih terukur karena pengembangan tidak harus dilakukan sekaligus dalam skala besar.
IDSS yang dirancang juga tidak berhenti pada konsep dashboard. Dashboard hanyalah salah satu bagian dari sistem. Di belakangnya terdapat proses integrasi berbagai sumber data, pengolahan dan validasi data, analitik, indikator kinerja, hingga mekanisme untuk menghasilkan informasi yang dapat membantu proses pengambilan keputusan.
Dalam konteks Mojokerto, IDSS diarahkan untuk mendukung evaluasi terhadap sembilan indikator utama pemerintahan kabupaten. Indikator tersebut nantinya dapat menjadi salah satu kerangka untuk menghubungkan data sektoral dari berbagai OPD sehingga pimpinan daerah dapat melihat kondisi pembangunan secara lebih menyeluruh, bukan berdasarkan data dari satu sektor saja.
Sekretaris Daerah dalam diskusi tersebut turut menekankan pentingnya menyatukan data dari seluruh OPD. Integrasi diperlukan untuk mengurangi potensi duplikasi maupun inkonsistensi data, sekaligus memberikan dasar yang lebih kuat dalam proses perencanaan anggaran, penetapan target, dan evaluasi program pembangunan.
Sementara itu, Anwar menyoroti bahwa manfaat IDSS tidak hanya berkaitan dengan efisiensi teknologi. Lebih jauh, sistem ini diharapkan dapat mendorong perubahan budaya kerja pemerintahan menuju data-driven government. Ketika data tersedia secara lebih terintegrasi dan dapat dianalisis dengan baik, pimpinan dan OPD memiliki dasar yang lebih objektif dalam menentukan prioritas, mengalokasikan sumber daya, dan mengevaluasi hasil program.
Dalam kerangka tersebut, keberadaan TeMA Civic menjadi strategis. Platform ini dapat menjadi titik awal untuk membangun standardisasi proses digital pemerintahan sekaligus menyediakan fondasi bagi pengembangan kemampuan yang lebih advanced. Seiring bertambahnya sumber data dan kebutuhan analitik, kemampuan IDSS dapat dikembangkan tanpa harus mengubah keseluruhan fondasi sistem.
Roadmap awal yang dibahas bersama meliputi assessment terhadap aplikasi existing, pemetaan sumber data, integrasi data, pengembangan dashboard dan indikator sesuai kebutuhan Pemkab Mojokerto, pengembangan kapabilitas analitik, pelatihan SDM, serta evaluasi dan penyempurnaan secara berkelanjutan. Seluruh tahapan tersebut akan dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara TMA dan pemerintah daerah.
Dengan demikian, konsep IDSS Mojokerto tidak diposisikan sebagai sebuah produk yang berdiri sendiri. IDSS merupakan lapisan intelligence yang tumbuh di atas ekosistem digital pemerintahan, dengan TeMA Civic sebagai salah satu fondasi awalnya. Pendekatan ini memungkinkan transformasi dilakukan secara bertahap: mulai dari membangun layanan dan proses digital, mengintegrasikan data, menghadirkan dashboard, kemudian meningkatkan kemampuan sistem menuju analitik dan decision support.
Pertemuan ditutup dengan komitmen untuk melanjutkan pembahasan dan mempersiapkan langkah implementasi berikutnya. Bagi TMA, kolaborasi bersama Pemkab Mojokerto ini menjadi kesempatan untuk menerapkan filosofi “Technology with True Humanity” dalam konteks pemerintahan: teknologi bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi membantu manusia memahami situasi dengan lebih baik dan mengambil keputusan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui TeMA Civic sebagai fondasi awal dan IDSS sebagai intelligence layer, TMA bersama Pemkab Mojokerto mulai merancang sebuah ekosistem digital yang diharapkan mampu membawa tata kelola pemerintahan menuju arah yang lebih terintegrasi, adaptif, transparan, dan berbasis data.