Mahasiswa IPI Garut Tuntaskan Magang di TMA, Presentasikan Pengembangan HRMS Berbasis ERPNext

Bandung, 20 Oktober 2026 — PT Tech Mayantara Asia (TMA) menyelenggarakan presentasi laporan akhir magang mahasiswa Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian program magang empat mahasiswa, yaitu Dito, Devira, Fajril, dan Wildan, yang selama menjalani program berkesempatan terlibat dalam pengembangan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), khususnya pada modul Human Resource Management System (HRMS) berbasis ERPNext.
Dalam sesi akhir ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil pekerjaan, pendekatan pengembangan, serta pembagian peran dalam tim. Tidak hanya menyampaikan hasil akhir, mereka juga diminta menjelaskan proses teknis yang telah dikerjakan dan menjawab berbagai pertanyaan secara mendalam sesuai bidang spesialisasi masing-masing.
Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Purnomo Sidiq, M.Kom., dosen pembimbing dari IPI Garut, yang turut menyaksikan hasil pembelajaran mahasiswa selama berada di lingkungan industri sekaligus menandai berakhirnya program magang mereka di TMA.

Mengembangkan HRMS dengan Pendekatan User-Centric
Salah satu fokus utama proyek magang ini adalah pengembangan HRMS berbasis ERPNext. ERPNext merupakan platform ERP yang menyediakan berbagai modul untuk mendukung proses bisnis organisasi, termasuk pengelolaan sumber daya manusia.
Dalam proyek ini, perhatian tidak hanya diarahkan pada fungsi sistem, tetapi juga pada pengalaman pengguna melalui pengembangan UI/UX yang baru. Para mahasiswa berupaya merancang alur interaksi yang lebih halus (smooth user flow), sehingga pengguna dapat menyelesaikan pekerjaan dengan langkah yang lebih jelas dan intuitif.
Secara konseptual, pendekatan UI/UX yang dikembangkan berangkat dari perubahan pola interaksi ERPNext yang cenderung document-centric menuju pengalaman yang lebih action-centric. Pada pendekatan document-centric, pengguna umumnya memulai pekerjaan dengan membuka atau mencari dokumen, kemudian melakukan tindakan yang diperlukan. Sementara itu, pendekatan action-centric lebih menitikberatkan pada aktivitas atau tujuan yang ingin diselesaikan pengguna.
Perubahan ini penting dalam pengembangan aplikasi bisnis. Pengguna tidak selalu berpikir berdasarkan struktur dokumen atau modul yang tersedia, melainkan berdasarkan pekerjaan yang perlu diselesaikan. Karena itu, desain antarmuka perlu membantu pengguna menemukan tindakan yang relevan, memahami langkah berikutnya, dan menyelesaikan proses dengan lebih efisien.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan HRMS menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah aplikasi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fitur, tetapi juga oleh kemudahan pengguna dalam memanfaatkan fitur tersebut untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Pembagian Peran dan Pengujian Kompetensi
Presentasi laporan akhir dibawakan oleh Fajril sebagai Project Manager (PM). Dalam perannya, Fajril bertanggung jawab mengelola aktivitas proyek, mengoordinasikan anggota tim, serta memastikan pekerjaan berjalan sesuai target dan jadwal yang telah ditentukan.
Wildan bertugas sebagai Backend Engineer, dengan fokus pada sisi backend dan kebutuhan pengolahan sistem. Devira dipercaya sebagai Frontend Engineer, yang menangani implementasi antarmuka dan interaksi pengguna. Sementara itu, Dito berperan sebagai UI/UX, dengan perhatian pada perancangan pengalaman pengguna, struktur antarmuka, serta alur interaksi dalam aplikasi.
Pembagian peran tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah proyek perangkat lunak dikerjakan melalui kolaborasi beberapa disiplin. Perancangan pengalaman pengguna perlu diterjemahkan menjadi antarmuka, antarmuka harus terhubung dengan fungsi sistem, dan keseluruhan pekerjaan perlu dikelola agar tetap sejalan dengan tujuan proyek.
Dalam sesi evaluasi, setiap mahasiswa mendapat kesempatan untuk menunjukkan proses pengerjaan dan menjelaskan keputusan yang diambil dalam bidangnya. Mereka juga menghadapi pertanyaan teknis yang menguji pemahaman terhadap hasil pekerjaan, alasan pemilihan pendekatan, serta kemampuan menjelaskan solusi yang dikembangkan.
Proses ini menjadi bagian penting dari pembelajaran karena dunia kerja tidak hanya menuntut seseorang mampu menghasilkan kode atau desain, tetapi juga memahami persoalan, mempertanggungjawabkan keputusan teknis, berkomunikasi dengan anggota tim, dan menjelaskan hasil pekerjaannya secara sistematis.
Belajar Menghadapi Situasi Nyata Dunia Kerja
CEO TMA, Deden Himawan, turut hadir dalam sesi penerimaan dan pengujian teknis. Dalam suasana yang serius tetapi tetap santai, ia memberikan arahan mengenai situasi riil di dunia kerja, termasuk pentingnya tanggung jawab, koordinasi, penguasaan bidang, dan kemampuan menghadapi pertanyaan atas pekerjaan yang telah dilakukan.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat perbedaan antara menyelesaikan tugas akademik dan mengembangkan solusi dalam lingkungan profesional. Di dunia kerja, hasil pekerjaan perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, keterbatasan waktu, komunikasi antarfungsi, serta keberlanjutan sistem yang dikembangkan.
Bagi TMA, program magang merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam proyek nyata, sementara perusahaan dapat berbagi pengalaman dan memperkenalkan praktik pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan bisnis.

Menutup Magang, Membawa Pengalaman ke Tahap Berikutnya
Kegiatan pada 20 Oktober 2026 ditutup dengan serah terima mahasiswa dan pemberian plakat sebagai bagian dari penutupan program magang. Kehadiran dosen pembimbing, presentasi hasil pekerjaan, serta evaluasi langsung dari tim TMA menjadi rangkaian akhir dari proses pembelajaran yang telah dijalani keempat mahasiswa.
Pengalaman Dito, Devira, Fajril, dan Wildan menunjukkan pentingnya kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar melalui proyek kolaboratif, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi yang mendekati situasi profesional. Pihak IPI Garut mengungkapkan terima kasih yang dalam atas bimbingan Randy Rahman sebagai Head of Tech. Strategy & Innovation TMA dan dukungan Ibu Neni Kusdiani sebagai Head of Corporate Services selama masa 3 bulan magang para mahasiswa ini.
TMA berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi para mahasiswa untuk melanjutkan perjalanan mereka di bidang teknologi informasi, sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri.
Sejalan dengan semangat “Technology with True Humanity”, TMA memandang pengembangan teknologi dan pengembangan manusia sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Teknologi dibangun melalui proses belajar, kolaborasi, dan keberanian memperbaiki diri—sementara pengalaman industri dapat menjadi jembatan agar pengetahuan tumbuh menjadi karya yang memberikan manfaat nyata.