Kembali ke halaman studi kasus

Telkomcare: Dari Pengawalan KTT APEC 2013 hingga Menjadi Garda Digital Berbagai Event Nasional

Admin
Diterbitkan 26 Agustus 2026
0 dilihat
0 dibagikan
Bagikan:
Telkomcare: Dari Pengawalan KTT APEC 2013 hingga Menjadi Garda Digital Berbagai Event Nasional

Perjalanan Telkomcare tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan Telkom untuk memastikan kesiapan dan keandalan layanan digital dalam berbagai agenda penting berskala nasional maupun internasional. Dari pengawalan infrastruktur telekomunikasi pada KTT APEC 2013 hingga berbagai event nasional saat ini, kebutuhan terhadap monitoring yang terintegrasi terus berkembang. Telkomcare hadir sebagai bagian dari perjalanan tersebut, membantu menghadirkan visibilitas terhadap kondisi perangkat dan layanan secara lebih cepat, terukur, dan mudah dipantau.

Jejak awal perjalanan tersebut dapat ditelusuri pada penyelenggaraan KTT APEC 2013. Pada saat itu, Telkom menyiapkan War Room untuk melakukan monitoring jaringan dan event management secara intensif. Sistem monitoring digunakan untuk memantau berbagai komponen layanan, mulai dari switching, transmission, access, hingga layanan WiFi, 3G, 4G, dan BTS. Pengawalan dilakukan secara intensif dengan dukungan tim yang bekerja selama 24 jam untuk memastikan layanan komunikasi selama agenda internasional tersebut berjalan dengan baik.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan monitoring dan koordinasi operasional Telkom. Dalam perkembangannya, kebutuhan monitoring tidak hanya muncul ketika terdapat event internasional, tetapi juga pada berbagai agenda nasional dan kegiatan dengan tingkat kritikalitas tinggi. Salah satu momentum penting adalah Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015. Saat itu Telkom menyiapkan infrastruktur telekomunikasi dalam skala besar, termasuk kapasitas jaringan, access point, serta berbagai perangkat pendukung untuk memastikan kebutuhan komunikasi selama acara dapat terpenuhi.

Konsep monitoring dan pengawalan tersebut kemudian berkembang menjadi kebutuhan yang lebih luas. Telkomcare digunakan untuk membantu koordinasi Crisis Management Team, sekaligus menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan berbagai kegiatan dan kondisi operasional yang membutuhkan respons cepat.

Dalam praktiknya, Telkomcare kemudian dimanfaatkan dalam berbagai event tahunan maupun incidental event. Selain agenda besar seperti KTT dan KAA, kebutuhan monitoring juga hadir dalam kegiatan rutin seperti Natal dan Tahun Baru (NARU), Ramadan, serta Lebaran. Pada periode-periode tersebut, volume trafik dan kebutuhan layanan telekomunikasi meningkat sehingga monitoring terhadap perangkat dan titik layanan menjadi bagian penting dari kesiapan operasional.

Seiring waktu, kebutuhan tersebut semakin berkembang. Telkomcare bukan lagi sekadar alat untuk melihat status perangkat, tetapi menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan gambaran kondisi operasional secara lebih menyeluruh. Informasi yang sebelumnya tersebar dapat ditampilkan dalam bentuk dashboard sehingga tim dapat lebih cepat mengetahui kondisi di lapangan, menentukan prioritas, dan melakukan koordinasi apabila terdapat indikasi gangguan.

Pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kemampuan tersebut kembali digunakan untuk mendukung pengawalan layanan Telkom pada berbagai lokasi strategis. Tim melakukan monitoring terhadap 89 node, dengan hasil 72 node berada dalam kondisi up, 17 node inactive, dan tidak terdapat node yang berstatus down. Monitoring mencakup sejumlah lokasi strategis seperti Istana Merdeka, Monas, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta, Istana Tampak Siring, IKN, TMP Kalibata, DPR/MPR, hingga Halim.

Dalam pelaksanaan tersebut, Telkomcare mendapatkan perhatian positif dari pihak Telkom. Erica, selaku PIC HUT RI dari EBIS, turut menunjukkan kemampuan interface dan monitoring Telkomcare kepada Direktur EBIS Telkom. Dashboard yang memberikan gambaran kondisi node secara lebih mudah dipahami menjadi salah satu nilai penting dalam mendukung koordinasi operasional selama event.

Di balik pengembangan dan pengoperasian Telkomcare, terdapat kolaborasi berbagai pihak. Pada pengawalan HUT RI tersebut, Rien berperan sebagai PIC Telkomcare dari DIT, bersama Usman dan Thara Arfiansyah dari TIF Telkom. Dari sisi TMA, dukungan diberikan oleh Maulana Septiyadi sebagai Senior Developer, Salman Artadi sebagai Developer, dan Syam Sofyan sebagai Developer.

Bagi Tech Mayantara Asia (TMA), keterlibatan dalam Telkomcare menjadi pengalaman penting dalam mengembangkan solusi yang bukan hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada kebutuhan manusia yang menggunakannya. Sistem monitoring harus mampu menyajikan informasi yang relevan pada saat yang tepat, membantu tim memahami situasi, dan mendukung pengambilan keputusan ketika waktu menjadi faktor yang sangat penting.

Perjalanan Telkomcare juga menunjukkan bahwa sebuah solusi digital dapat berkembang mengikuti kebutuhan organisasi. Apa yang berawal dari kebutuhan monitoring dan pengawalan layanan pada event besar berkembang menjadi kemampuan operasional yang digunakan berulang kali dalam berbagai momentum penting. Dari APEC 2013, berbagai event nasional, KAA, NARU, Ramadan dan Lebaran, hingga pengawalan HUT Kemerdekaan RI, pengalaman tersebut membentuk sebuah perjalanan panjang dalam membangun operational intelligence berbasis digital.

Bagi TMA, pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa teknologi yang baik bukan hanya tentang seberapa canggih sistem yang dibangun, tetapi seberapa besar teknologi mampu membantu manusia bekerja dengan lebih tenang, cepat, dan tepat. Melalui kolaborasi bersama Telkom dan berbagai tim terkait, TMA terus mengambil bagian dalam menghadirkan solusi yang memberikan dampak nyata—selaras dengan semangat “Assisting Your Business From The Heart.”